Selasa 21 Jamadilawal 1437 / 1 Maret 2016 07:47
DAMPAK negatif gaya hidup lesbi dan homoseks ternyata
mengerikan secara medis. Sejak menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin sejak
tahun 1998, dr. Inong Dewi Irana Sp, KK mengaku, kerap menemukan dubur
pasiennya yang rusak. Hal ini disebabkan penyimpangan seksual yang dilakukan
oleh kaum homoseks atau LGBT.
“Saya sudah lihat bentuk dubur apa saja, akibat perilaku
seks menyimpang kaum homoseksual,” ungkap dr. Inong Dewi Irana Sp, KK dalam
Seminar ilmiah “LGBT dalam Perspektif Keilmuan” di Gedung Fakultas Hukum
Universitas Indonesia (FHUI) belum lama ini.
Seminar ini diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampu
Nasional Salam UI bekerjasama dengan Komunitas Penggenggam Hujan, FSI FISIP,
Serambi FH, Formasi FIB, dan FSI FK UI.
Sewaktu di Madiun, dr. Inong kerap memberi konseling kepada
500 waria, homoseks dan pelacur binaannya. Faktanya, tak sedikit yang
terjangkit penyakit HIV/AIDS.
Itulah sebabnya, dokter jebolan Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia (FKUI) ini protes keras ketika Ahok hendak menyediakan
tempat lokalisasi.
“Orang berzina kok disahkan. Bikin aja sekalian lokalisasi
penipu, koruptor, dan sejenisnya,” ujar dr. Inong yang pernah bekerja di Aceh
dan Papua ini.
Lalu, bisakah pelaku LGBT tidak berhubungan seks?
“Kenyataannya, bohong kalau LGBT tidak berzina atau
melakukan hubungan seks. Faktanya, mereka berganti-ganti pasangan. Dari segi
psikologi, LGBT itu lebih sadis, mereka takut kehilangan pasangannya,” ujarnya.
Lebih jauh dr. Inong mengatakan, sekarang ini penyakit
menular, bukan hanya HIV/ AIDS saja, kanker lever dari hepatitis C dan B pun
bisa tertular melalui perzinahan, baik
yang heteroseksual maupun dengan sesama jenis.
HIV/ AIDS muncul dari homoseksual sejak tahun 1981. Awalnya
dokter mengira penyakit kanker, setelah diobati ternyata tak kunjung sembuh.
Kini, semakin banyak LGBT, banyak muncul penyakit baru.
Resiko penularan tertinggi HIV/AIDS disebabkan karena
sodomi, vagina, dan oral seks. Banyak yang mengira sariawan, tapi siapa sangka
jika lidah akibat oral seks bisa terkena sepilis. Mengerikan, seseorang akan
tertular HIV/AIDS dalam 10-15 tahun tanpa diketahui gejalanya.
“Tertularnya melalui darah. Termasuk bekas cukuran jenggot
seseorang yang sudah terkena HIV/AIDS,” terangnya.
Di Indonesia sendiri dari waktu ke waktu jumlah pengidap
penyakit mematikan ini kian meningkat.
“Di antara mereka yang terkena HIV/AIDS berusia produktif
antara 20-49 tahun,” pungkasnya. (Desastian/Islampos)
