Pada
peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam naik ke
hadhratullah menembus Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk), berjumpa
dengan Allah Subahanahu Wa Taala.
Beliau
mendengar suara,
“mendekat
mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu wahai Muhammad”
maka Nabi
Muhammada sallallahu alaihi wa sallam pun bersujud lalu berkata:
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ
الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ
Attahiyyatul
Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“
(Rahasia
keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan untuk Allah
subhanahu wata'ala)
Allah SWT
pun berfirman,
السَّلاَمُ
Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”,
(Salam sejahtera wahai Nabi dan Rahmatnya
Allah, dan keberkahannya)
Maka
Rasulullah menjawab:
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَىعِبَادِ اللهِ الصَّا لِحِيْنَ
“Assalaamu
alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin”
(Salam
sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg shalih (yaitu
para nabi dan malaikat)
Mendengar
percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat.
Asyhadu
an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah
(Saya
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Ungkapan
yang agung dan bersejarah inilah kemudian diabadikan sebagai bagian dari bacaan
shalat yang disebut Tahiyat (Tasyahud).
Setelah mengetahui asal muasal dari bacaan Thiyat ini maka sangatlah tepat bila pada
waktu sholat kita ucakpan dengan khusuk dengan tidak tergesa-gesa.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
