Kamis, 21 Juli 2016

MUKHLIS - TAWAKAL KEPADA ALLAH SWT

MUKHLIS – TAWAKAL KEPADA  ALALAH SWT

1.       MUKHLIS – MUKHLISINA LAHUDDIIN

MUKHLIS adalah asal kata dari IKHLAS yang artinya MURNI tanpa campuran apa-apa. EMAS yang 24 karat kemurniannya adalah 99,99% (100%) tanpa boleh ada campuran yang lain.  Begitu seharusnya kemurnian kita di dalam beragama, tidak boleh mencampurkan adukkan ketika kita menyeru atau menyembah tersebut bagi yang selain Allah. 

Allah meminta agar kita menyeru dan menyembah-Nya dalam bentuk ; MUKHLISINA LAHUDDIN (mukhlis bagi-Nya agama) yaitu agama-Nya yang lurus.

Setiap Idul Fitri atau Idul Adha kita melakukan takbir berulang-ulang sebelum pelaksanaan shlolat disertai kata-kata yang termasuk mukhlisina lahuddiin spt di bawah ini:

" Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, 
Wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiillaa. 
Laa ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin, 
Walau karihal kaafiruun, walau karihal musyrikun, walau karihal munafiqun.
Laa ilaaha illallaahu wahdah, shodaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundahu wahazamal ahzaaba wahdah.
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. 
Allaahu akbar walillaahil hamd."

"Allah maha besar dan juga sempurna kebesaran-Nya, Segala puji bagi-Nya dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada yang kami sembah selain kepada-Nya, Kami memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, musrik, dan munafiq membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya. Dia Maha menepati janji. Dan menolong hamba-hamba-Nya, Memuliakan bala tentara-Nya dan menghancurkan musuh-musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah. Dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan Segala Puji hanya bagi Allah."

Di dalam Al Quran Allah telah tegaskan ;
Wa ma 'umiru illa liya'budullaha mukhlisina lahud din(a), hunafa 'a wa yuqimus salata wa yu' tuz zakata wa zalika dinul qayyimah(ti).

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. 
(Al-Bayyinah : 98 : 5)

Sebagian dari kita sekarang seolah-olah sudah merasa aman, karena kita menganggap bahwa kita telah menyembah Allah. Mungkin kita menyembah Allah, namun apakah kita sudah menyeru dan menyembah secara MUKHLISINA LAHUDIN?


2. TAWAKAL KEPADA ALLAH SWT

Tawakal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah SWT karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Orang yang bertawakal adalah orang yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Dalam (QS. Āli Imrān 3:159), 
Allah berfirman, yang terjemahnya sperti berikut:
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. 

Kemudian dalam (QS. Āli Imrān 3: 160),  Berserah dirilah kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya niscaya Allah akan menolong kita. 
arti teks adalah sbb: 
Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

Hubungan Tawakal dengan Usaha

Tawakal kepada Allah bukan berarti menghilangkan dan meninggalkan usaha atau ikhtiar. Bahkan tawakal tidak sah tanpa adanya usaha. Rasulullah saw. adalah contoh orang yang paling bertawakal. Namun beliau selalu mengadakan persiapan dalam menghadapi sesuatu. Beliau memerintahkan kepada orang lain agar bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Orang yang tidak mau berusaha, ia tidak akan memperoleh sesuatu yang ia harapkan. Jika seseorang ingin sembuh dari penyakitnya, hendaklah ia berobat. Dalam hal ini Rasulullah menegaskan,
‎‎Hai manusia, berobatlah! Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali telah menyiapkan obatnya.”

Hubungan Mukhlisina Lahuddin dan Tawakal kepada Allah SWT:
Hubungannya sangat erat:
Ikhlas harus Mukhlisina Lahuddin…. Murni menyembah hanya kepada Allah
Tawakal juga menyerahkan diri total hanya kepada Allah, tetapi harus ada usaha nyata.

Keduanya adalah keyakinan dan tindakan hanya kepada Allah SWT.

Ikhlas melaksanakan agama yang lurus kepada Allah dan total menyerahkan diri kepada Allah.

Implikasinya:

1.    Terhindar dari kemusyrikan

kata hunafa atau hanifa juga kita ucapkan sewaktu shalat dalam bacaan Iftitah seperti di bawah ini.
.....hanifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin, .....



2.    Ihklas menerima KEHENDAK ALLAH SWT namun harus berusaha.

3.    Ikhlas menerima MUSIBAH dengan sabar. Musibah itu adalah salah satu bukti bahwa Allah masih cinta kapada kita dengan memberi ujian agar kita selalu mengingat dan mendekatkan diri dengan-Nya dan musibah dapat juga mengurangi dosa-dosa misalnya sabar menerima sakit.

4.    Ikhlas melaksanakan atau menggunakan  NIKMAT yang Allah berikan, sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Hadits. NIKMAT itu dapat juga merupakan ujian yang diberikan kepada kita yang kelak kita harus pertanggungjawabkan.

Semoga Allah melimpahkan banyak kebaikan, ketaatan dan kebahagiaan buat kita semua.
Subhaana Rabbika Rabbil Izzati Amma Yashifun -
Wa'Salaamun ala Mursaliin-
Walhamdulillahi Rabbil’Alaamiin
Aamiin Yaa Rabbil’Alaamiin
★ SELAMAT BER-IBADAH ★