Hadits tentang Gerhana Matahari
Kusuf (كسوف) adalah peristiwa dimana
sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang
oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.
Sedangkan
Khusuf (الخسوف) adalah
peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam
hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di
balik bumi dan matahari.
Shalat
gerhana matahari hukumnya sunnah muakkadah, kecuali madzhab Al-Hanafiyah yang mengatakan
hukumnya wajib, Shalat gerhana matahari dan bulan dikerjakan dengan cara
berjamaah, sebab dahulu Rasulullah SAW mengerjakannya dengan berjamaah di
masjid.
Shalat gerhana
secara berjamaah dilandasi oleh hadits Aisyah radhiyallahu 'anha.
Shalat
gerhana matahari dilakukan tanpa didahului dengan azan atau iqamat. Yang
disunnahkan hanyalah panggilan shalat dengan lafadz "As-Shalatu
Jamiah".
Dalilnya
adalah hadits berikut :
َلَّماَكَسَفِت الَّشْمُسَعَلىَعْهِدَرُسولَِّاللهُنوِدَي
: إَِّن الَّصلاََةَجاِمَعٌة
Ketika
matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil
shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari)
Shalat
gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat. Masing-masing rakaat dilakukan dengan 2
kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Quran, 2 ruku' dan 2 sujud. Dalil
yang melandasi hal tersebut adalah:
Dari
Abdullah bin Amru berkata,"Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi
SAW, orang-orang diserukan untuk shalat "As-shalatu jamiah". Nabi
melakukan 2 ruku' dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2
ruku' untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra
berkata,"Belum pernah aku sujud dan ruku' yang lebih panjang dari ini.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat
gerhana matahari dilakukan dua rakaat dengan 4 kali rukuk yaitu pada rakaat
pertama, setelah rukuk dan Iktidal membaca Al Fatihah lagi kemudian rukuk dan
iktidal kembali setelah itu sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.
Secara
detailnya, Dibawah ini adalah tata cara shalat Gerhana Matahari:
Gambar Cara Sholat Gerhana Matahari
1. Memastikan terjadinya gerhana Matahari terlebih dahulu sesuai
arahan ulama' dan umara setempat.
2. Shalat gerhana matahari dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum melaksanakan shalat gerhana tidak perlu adzan dan iqamah,
jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, "Ash-sholatu jaami’ah."
4. Jika niat diucapkan:
أَُصلِّْيُسَّنًة
لُِكُسْوِف الَّشْمِسِاَماًما /َمأُْمْوًماِِّ َتَعاَلى
5. Shalat gerhana matahari dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
Setelah i'tidal (berdiri setelah rukuk) tidak langsung sujud namun
dilanjutkan berdiri lagi dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang
seperti sebelumnya. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
Begitu juga setelah duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
Hingga dalam 2 rekaat sholat Gerhana Matahari terdapat 2 ruku' dan dua
sujud
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca AlFatihahdan surah
kembali
8. Shalat gerhana matahari termasuk jenis shalat sunnah yang panjang
dan lama durasinya. Di dalam hadits shahih disebutkan tentang betapa lama dan
panjang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu :
اْبُنَعَّباٍس -َرِضَيَّاللهَُعْنُهَما -َقال :َكَسَفِت الَّشْمُسَعَلىَعْهِدَرُسول
َِّاللهَفَصلَّى الَّرُسولَوالَّناُسَمَعُهَفَقاَمِقَياًماَطِويلاًَنْحًواِمْنُسوَرِة
اْلَبَقَرِة
ُثَّمَرَكَعُرُكوًعاَطِويلاًُثَّمَقاَمِقَياًماَطِويلاًَوُهَوُدوَن
اْلِقَياِم اْلأَّولُثَّمَرَكَع
ُرُكوًعاَطِويلاًَوُهَوُدوَن
الُّرُكوِع اْلأَّول
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi
gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat
bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat
Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku' cukup lama, kemudian bangun cukup lama,
namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku' lagi dengan cukup lama
tetapi tidak selama ruku' yang pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)


