Bayu Adi
Wicaksono
Senin, 16
Maret 2015, 16:40 WIB
Pengantar:
Banyak orang baik dari kalangan pejabat publik, politisi, pemerintah maupun swasta, sudah pernah mendapat pelatihan tentang kepemimpinan. Dalam pelajaran ini sudah pasti ada mata pelajaran GAYA PEMIMPIN dan KOMUNIKASI. Setelah belajar mestinya mempraktekkan ilmu yang didapat. Sekarang kita ikuti gaya kepemimpinan Ahok selaku orang nomer 1 di DKI Jakarta. Apakah gaya kepemimpinan beliau sudah cocok dalam pelajaran yang kita peroleh? Kalau kita membenarkan Gaya Kepemimpinan seperti itu dengan dalih memberantasan korupsi dan Pembangunan Fisik, buat apa ada pelatihan SPALA, SPADYA, SPAMEN, SPATI dan banyak lagi pelatihan yang bergengsi. Saya melihat gaya kepemimpinannya sangat berbeda dengan ilmu yang kita dapat, bahkan merupakan tontonan aneh bagi orang yg mempuyai ilmu kepemimpinan.
Ok lah dikatakan ia bersih (walaupun masih perlu pembuktian kasus RS Sumberwaras), secara fisik pembangunan Jakarta kita akui berhasil. Namun perlu diingat indikator keberhasilan itu bukan hanya pembangunan fisik saja, tetapi pembangunan manusia seutuhnya. Manusia yg rusak akhlaknya akan tidak bisa memelihara Fisk Jakarta yang telah dibangun bersusah payah. Bangunan Fisik yang megah ini dalam waktu sebentar saja bisa runtuh hancur lebur misalnya bila terjadi chaos. Jadi kalau Ahok mengutamakan hanya bangunan Fisik saja tanpa memberi contoh akhlak kepemimpinan yang baik maka produknya bisa fisik bagus tetapi akhlak manusianya bisa kering dan mundur.
Saya setuju dengan Kak Seto bahwa Gaya Ahok Buruk Bagi Perkembangan Anak.
Saya setuju dengan Kak Seto bahwa Gaya Ahok Buruk Bagi Perkembangan Anak.
Mari kita simak beberapa video gaya kepemimpinan Ahok (judul saya copy sesuai dengan aslinya)
1. Mematahkan Dusta Teman-Teman Ahok
2. Ahok Berkelahi dengan Warga Miskin
VIVA.co.id -
Siapa yang tidak kenal dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias
Ahok. Seorang gubernur penuh fenomena dengan gaya bicara yang meledak-ledak
dibumbui sikap arogan.
Fenomena
gaya kepemimpinan Ahok banyak menimbulkan kontroversial dan pertentangan.
Meskipun
patut diakui, bahwa apa yang dilakukan Ahok selama ini dinilai sebuah kejujuran
untuk mengangkat Jakarta dari lembah hitam praktik korupsi dan kemalasan.
"Saya
pengagum beliau dalam hal kejujuran dan sebagainya," kata Ketua Komisi
Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi di kantor Wali Kota Jakarta Timur,
Senin 16 Maret 2015.
Perkataan
dan tindak tanduk Ahok, kata Kak Seto, telah berefek dengan menciutnya nyali
bawahan untuk bekerja semaunya seperti yang terjadi saat ini.
Namun, kata
Kak Seto, gaya bicara Ahok ternyata berdampak buruk bagi perkembangan
anak-anak, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di Ibu Kota Jakarta.
"Gaya
bicara yang meledak-ledak itu merupakan contoh yang tidak baik bagi
anak-anak," ujar Kak Seto.
Menurut Kak
Seto, sebaiknya Ahok lebih arif dan lebih bijaksana dalam berbicara. Sebab,
perkataan dan ucapan Ahok bisa diserap anak-anak melalui berbagai media.
"Karena
biasanya anak-anak hanya melihat dari kulit luarnya saja. Apakah seorang
pemimpin harus bertindak demikian?," kata Kak Seto.
Kak Seto
juga mengatakan kejujuran yang dimiliki Gubernur Jakarta ini sudah merupakan
hal yang bagus dan dapat dijadikan contoh bagi anak-anak.
Kata Kak
Seto, jika itu dikemas dengan lebih baik dan lebih arif lagi, maka akan jauh
lebih bagus.
"Kalau
nilainya sudah 8 bisa diperbaiki lagi jadi 10. Jadi, jika ditanya saran saya
untuk Pak Ahok, ya saya menyarankan mohon diubah caranya. Tidak harus dengan
cara yang meledak-ledak. Keberanian harus tetap disampaikan dengan cara yang
tenang dan lembut," ujar Kak Seto. (ase)
Anwar
Sadat/Jakarta
